Review Category : Artikel

Pendidikan Karakter Menurut Islam Lewat Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Pendidikan Karakter Menurut Islam Lewat Kitab Ta’lim al-Muta’allim  – PENDIDIKAN karakter dalam perspektif Islam sejatinya adalah internalisasi nilai-nilai adab ke dalam pribadi pelajar. Internalisasi ini merupakan proses pembangunan jiwa yang berasaskan konsep keimanan. Gagalnya sebuah pendidikan karakter yang terjadi selama ini, dapat disebabkan karena karakter yang diajarkan minus nilai keimanan dan konsep adab. Sehingga, proses pembangunan karakter tersendat bahkan hilang sama sekali.

Untuk membentuk penuntut ilmu berkarakter dan beradab, maka pendidikan Islam harus mengarahkan target pendidikan kepada pembangunan individu yang memahami tentang kedudukannya, baik kedudukan di hadapan Tuhan, di hadapan masyarakat dan di dalam dirinya sendiri.

Adab Lahir dan Batin

Syeikh al-Zarnuji, penulis kitab Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum, menekankan aspek nilai adab, baik adab batiniyah maupun adab lahiriyah, dalam pembelajaran. Kitab ini mengajarkan bahwa, pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan dan ketrampilan (skill), namun paling penting adalah transfer nilai adab. Kitab yang populer di pesantren-pesantren Indonesia ini memaparkan konsep pendidikan Islam secara utuh, tidak dikotomis. Bahwa, karakter sejati itu karakter beradab, yaitu sinergi antara adab batiniyah dan adab lahiriyah.

Pendidikan Karakter Menurut Islam Lewat Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Pendidikan karakter haruslah mendasarkan pada nilai religius, bukan justru anti nilai agama. Pemahaman umum yang diyakini kebanyakan pendidik, pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan, dan menepikan nilai agama. Definisi pendidikan karakter ini masih menyisakan problem.

Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, Syeikh al-Zarnuji merumuskan sejumlah metode penting dalam pembentukan karakter, yang mencakup adab batin dan lahir. Pertama, metode ilqa’ al-nasihah (pemberian nasehat). Nasihat diberikan berupa penjelasan tentang prinsip haq dan batil.

Penjelasan ini merupakan pemasangan parameter ke dalam jiwa anak sehinggaa bisa menjadi paradigma berpikir. Untuk itu, disyaratkan guru harus terlebih dahulu membersihkan diri dari sifat-sifat tercela agar nasihat yang diberikan membekas dalam jiwa anak didik (Syeikh Burhan al-Islam al-Zarnuji, Ta’im al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum, hal. 46). Pemberian nasehat harus dengan kesan yang baik, bijak, dan bahasa yang mudah dimengerti.

Kedua, metode Mudzakarah (saling mengingatkan). Al-Zarnuji memberi rambu-rambu agar ketika mengingatkan murid tidak melampaui batas karena bisa menyebabkan murid tidak menerimanya. Oleh sebab itu, al-Zarnuji memberi arahan agar guru harus memiliki sifat lemah lembut, menjaga diri dari sifat pemarah (hal. 35).

Pendidikan Karakter Menurut Islam Lewat Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Ketiga, strategi pembentukan mental jiwa. Dalam metode ini ditekankan beberapa aspek yaitu; niat, menjaga sifat wara’, istifadah (mengambil faedah guru), dan tawakkal. Syeikh al-Zarnuji menjelaskan, sukses dan gagalnya pendidikan Islam tergantung dari benar dan salahnya dalam niat belajar. Niat yang benar yaitu niat yang ditujukan untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, memperolah kebahagiaan (sa’adah) di dunia akhirat, memerangi kebodohan yang menempel pada diri dan melestarikan ajaran Islam. Harus ditekankan kepada anak didik bahwa belajar itu bukan untuk mendapatkan popularitas, kekayaan atau kedudukan tertentu, tapi mendapatkan ridha Allah.

Selama dalam proses belajar, anak didik harus dibiasakan bersifat wara’ (menjaga dari).  Syeikh al-Zarnuji mengatakan, “hanya dengan wara’ ilmu akan berguna” (hal. 9). Sikap wara’ adalah; menjaga diri dari perbuatan maksiat, menjaga perut dari makanan haram dan tidak berlebihan memakan makanan, tidak berlebihan dalam tidur, serta sedikit bicara.

Sedangkan yang dimaksud metode istifadah adalah guru menyampaikan ilmu dan hikmah, menjelaskan perbedaan antara yang haq dan batil dengan penyampaian yang baik sehingga murid dapat menyerap faidah yang disampaikan guru. Seorang murid dianjurkan untuk mencatat sesuatu yang lebih baik selama ia mendengarkan faidah dari guru sampai ia mendapatkan keutamaan dari guru.

Nilai batiniyah berikutnya adalah tawakkal dalam mencari ilmu. Guru harus menanam secara kuat dalam jiwa murid untuk bersikap tawakal selama mencari ilmu dan tidak sibuk dalam mendapatkan duniawai. Sebab, menurut al-Zarnuji, kesibukan lebih dalam mendapatkan duniawi dapat menjadi halangan untuk berakhlak mulia serta merusakkan hati.

Sebaliknya, baik guru maupun murid harus menyibukkan dengan urusan ukhrawi. Sebab pada hakikatnya kehidupan itu adalah dari Allah dan untuk Allah, maka seorang siswa itu haru siap dengan segala konsekuensi kehidupan.

Hubungan Guru-Murid

Selain menjelaskan metode dalam pembentukan jiwa beradab, kitab Ta’lim al-Muta’allim menjelaskan rumusan hubungan guru dan murid yang baik dan harmonis. Pola hubungan yang harmonis antara guru dan murid menjadi faktor suksesnya internalisasi adab ke dalam jiwa murid. Relasi guru dan murid harus berdasarkan sifat-sifat tawadhu’, sabar, ikhlas, dan saling menghormati.

Dalam konteks ini, proses pembelajaran ilmu menjunjung tinggi otoritas. Guru, dalam kitab Ta’lum al-Muta’allim, merupakan  sentral dalam proses belajar-mengajar. Yakni menggabungkan empat tugas secara integral, yakni uswah (contoh), mursyid (pembimbing), muraqib (pengawas).

Melaksanakan empat komponen tugas tersebut merupakan bentuk dari hubungan ruhiyah antara guru dan murid. Dalam pendidikan Islam, hubungan ruhiyah itu harus untuk mempermudah proses internalisasi nilai adab ke dalam jiwa murid.

Guru harus berperan membersihkan hati murid, mengharahkan dan mengiringi hati nurani murid untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-Nya. Guru juga harus pandai memberi prioritas pengajaran. Ilmu mana yang harus didahulukan dan diakhirkan beserta ukuran-ukuran yang sesuai.

Berkaitan dengan itu, seorang murid harus memiliki sifat iffah (menjaga diri dan menunjukkan harga diri) dan sabar menerima bimbingan guru. Dalam menuntut ilmu, hendaknya murid harus cinta ilmu dan gurunya, hormat pada guru, menyayangi sesama penuntut ilmu, memanfaatkan waktu untuk menambah ilmu.Jadi  guru harus dijadikan kaca.

Nilai-nilai adab dalam kitab ini bisa menjadi solusi yang tepat dalam model pendidikan karakter. Bahwa, pendidikan karakter itu harus berorientasi pada nilai adab. Pendidikan akhlak yang ada dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim memiliki nuansa pendidikan ruhiyah yang mengedepankan etika rabbaniyah. Pendidikan Karakter Menurut Islam Lewat Kitab Ta’lim al-Muta’allim

Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya   

Artikel Sebelumnya :

 



Read This Content ( 869 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

Cara Agar Badan Anak Tumbuh Sehat dan Tinggi

Cara Agar Badan Anak Tumbuh Sehat dan Tinggi – Tubuh anak sebetulnya hanya memerlukan zinc dalam jumlah sedikit. Bayi hingga berusia tiga tahun membutuhkan sekitar sekitar tiga mg per hari. Jumlahnya bertambah dua mg per hari begitu anak menginjak usia empat tahun. Angka kebutuhannya masih sama hingga empat tahun kemudian.

Persoalannya, tubuh tak mampu memproduksi zinc. Un tuk mencukupi kebutuhan gizi, anak perlu mendapat asupan zinc dari aneka bahan makanan. Mineral ini besar peranannya dalam proses metabolisme dan tumbuh kembang anak. “Studi masalah gizi mikro di 10 provinsi pada 2006 memperlihatkan prevalensi balita kekurangan zinc mencapai 32 persen dan asupan zinc mereka hanya 30 persen dari angka kecukupan gizi,” ungkap Kepala Seksi Standardisasi Konsumsi Makanan Direktorat Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak Kementerian Kesehatan, Titin Hartini.

Lantas, apa dampak kekurangan mineral tersebut? Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB Prof Hardinsyah MS menjelaskan dampak defisiensi zat gizi mikro terkait tumbuh kembang anak bersifat jangka panjang. Kasus ini terjadi erat kaitannya dengan ketidakmampuan masyarakat secara ekonomi untuk memperoleh bahan pangan hewani serta masyarakat yang kurang memahami pola gizi seimbang. Sebagai akibatnya, mereka rentan mengalami kekerdilan, keterlambatan pematangan tulang, dan keterlambatan kematangan seksual. “Lantaran kasusnya sering kali tersembunyi dan tidak disadari, kekurangan zat gizi mikro sering juga disebut hidden hunger.”

Untuk mengatasi kekurangan zat gizi mikro, Hardinsyah menomorduakan suplemen. Ia berpendapat memperbaiki pola konsumsi makanan harian jauh lebih bermakna untuk memperbaiki kondisi anak dengan defisiensi zinc. “Tidak seperti suplementasi zinc yang hanya mengandung satu mineral, bahan pangan alami lebih kaya akan kandungan zat gizi sehingga dapat meningkatkan status gizi anak secara keseluruhan.”

Tanpa mengonsumsi pangan hewani dan sayuran, akan sulit bagi tubuh untuk memenuhi kecukupan asupan zat gizi mi kro. Hardinsyah menyarankan makanan, seperti daging merah, gandum utuh, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Zinc juga ada pada sereal yang telah diolah, beras, ayam, daging ber lemak serta ikan, tiram, umbi-umbian, dan beberapa sayuran hijau. “Konsumsi pangan tambahan yang telah difortifikasi dengan zat gizi mikro juga dapat dijadikan alternatif. Cara Agar Badan Anak Tumbuh Sehat dan Tinggi

 



Read This Content ( 1099 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

Rahasia Agar Anak Sehat dan Cerdas

Rahasia Agar Anak Sehat dan Cerdas – Sekolah dan tempat pendidikan bukanlah satu-satunya tempat yang bisa mencerdaskan otak anak Anda. Ada faktor-faktor lain yang turut memengaruhi tingkat kecerdasan si buah hati. Nah, berikut 6 hal yang bisa Anda lakukan untuk memaksimalkan tingkat kecerdasan anak-anak Anda baik di sekolah maupun dalam kehidupan sosial seperti dilansir situs duniafitnes.com:

ASI Eksklusif

Jika Anda memiliki buah hati yang masih bayi, berarti peluang Anda untuk meningkatkan kecerdasan anak Anda masih terbuka lebar. Salah satu cara efektif untuk meningkatkan kecerdasan bayi adalah dengan memberinya ASI eksklusif selama 9 bulan.Sebuah studi di Denmark mengungkap bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif selama 9 bulan mengalami pertumbuhan yang signifikan dan lebih cerdas dari bayi yang hanya mendapatkan ASI satu bulan atau kurang.

Cukupi Gizinya

Ajarkan kebiasaan mengonsumsi makanan sehat sejak dini, seperti tindak memberi buah hati makanan-makanan junk food dan menggantinya dengan sayuran serta buah-buahan segar. Di masa pertumbuhan, otak anak Anda membutuhkan nutrisi penting, seperti asam lemak Omega-3 yang bisa didapatkan dari ikan. Beberapa studi membuktikan bahwa anak-anak yang gemar menyantap ikan seperti, tuna, salmon, dan cod, memiliki pikiran yang tajam dan mencatat hasil yang baik dalam ujian.

Kenalkan Musik

University of Toronto menyebutkan bahwa memperkenalkan musik kepada anak bisa menjadi langkah yang tepat untuk melatih kemampuan otak kanan. Mereka juga menyatakan bahwa anak-anak yang bermain musik memiliki kemajuan yang pesat dalam IQ dan kemampuan akademik saat mereka menginjak usia remaja.

Kenalkan Olahraga

Tim peneliti dari University of Illinois membuktikan bahwa ada hubungan yang kuat antara kebugaran fisik dengan prestasi akademik anak-anak. Secara umum aktivitas fisik saat berolahraga berkaitan erat dengan prestasi belajar anak-anak. Meningkatnya aliran darah dan oksigen ke otak saat berolahraga dianggap sebagai faktor yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak saat mengerjakan soal-soal ujian.

Biasakan Sarapan

Ini adalah kebiasaan kecil yang masih sering diabaikan oleh para orang tua. Membiasakan anak sarapan dapat meningkatkan memori dan konsentrasi saat belajar. Anak-anak yang tidak terbiasa sarapan akan cepat lelah dan sulit berkonsentrasi terhadap pelajaran yang diterimanya. Ini berhubungan dengan asupan gizi yang tidak ia dapatkan di pagi hari, sehingga pada siang hari kemampuan otaknya menjadi menurun

Budayakan Membaca

Membaca baik untuk segala usia, termasuk anak-anak. Membaca merupakan cara yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan perkembangan kognitif anak-anak. Menurut Paul C. Burns, Betty D. Roe & Elinor P. Ross, pakar pendidikan anak dari Amerika Serikat, ada delapan aspek yang bekerja saat anak-anak terbiasa membaca, yaitu aspek sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berpikir, belajar, asosiasi, dan afeksi, di mana semua aspek tersebut merupakan faktor penting dalam meningkatkan kecerdasan dan kemampuan otak anak. Rahasia Agar Anak Sehat dan Cerdas. Republika.co.id

Ulasan Pilihan lainnya :

 

 

Read This Content ( 244 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

ASI Bisa Bikin Anak Cerdas, Inilah Buktinya

ASI Bisa Bikin Anak Cerdas, Inilah Buktinya – Selain mengonsumsi makanan bergizi sejak dalam kandungan yang disertai stimulasi, Dr Reni Akbar Hawadi Psi, kepala Bagian Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengatakan langkah berikutnya adalah dengan menyusui bayi. Selain karena air susu ibu (ASI) mengandung lemak esensial seperti DHA dan AA serta taurin yang membantu pematangan sel-sel otak, saat menyusui pun terjadi stimulasi dan pemberian kasih sayang.

 

”ASI bukan hanya memberi nutrisi terbaik, tetapi juga kehangatan. Jadi emotional bonding, emotional attachment ibu dan anak itu terjaga. Ada kontak mata, usapan, ibu berbicara. Selama ini orang melihat pemberian ASI itu an sich nutrisinya, padahal tidak. Jadi memang pemberian ASI dahsyat sekali,” katanya.

Pada umur nol bulan, tutur Reni, sel-sel saraf (neuron) di otak bayi kebanyakan hanya terlihat lurus-lurus saja, hanya terdiri atas badan sel dan perpanjangan dari ujung badan sel atau dendrit. Otak bayi mengalami proses pematangan bila dari sel-sel tersebut terbentuk semacam tangkai yang memanjang yang disebut akson. Akson inilah yang saling berhubungan membentuk simpul saraf yang membuat otak dan seluruh bagian tubuh berkomunikasi.

Menurut data Departemen Kesehatan, anak yang diberi ASI punya IQ 4,3 poin lebih tinggi dibanding yang tak diberi ASI. IQ itu pun terus melesat kendati sang anak tak lagi diberi ASI. Sebab setelah diperbandingkan, pada usia tiga tahun, anak yang diberi ASI memiliki IQ 4-6 poin lebih tinggi, dan pada usia delapan tahun memiliki IQ 8,3 poin lebih tinggi dibanding anak yang tak diberi ASI.

Sejumlah orangtua yang anaknya diketahui ber-IQ tinggi, punya record menyusui anaknya. Farida Kasim (60 tahun), misalnya, memberi ASI dua tahun penuh kepada anak kedua hingga keempat. Hanya anak pertama yang diberi ASI setahun. Kini, anak bungsunya, Firmansyah Kasim (16), meraih medali emas Olimpiade Fisika di Iran, Juli lalu. Firmansyah mempunyai IQ 153, sedangkan tiga kakaknya rata-rata 130.

Sejak masih mengandung, Farida mengaku sudah melakukan persiapan. Dia rajin makanan sumber protein seperti ikan, ayam, telur, dan daging. Selain itu ditopang vitamin serta jus wortel, sunkis, dan apel. Dia mengaku sangat meyakini anak cerdas banyak bergantung pada masalah gizi, di samping faktor keturunan. ”Tidak lupa saya juga selalu berdoa,” kata Farida yang di Makassar, pekan lalu.

Pasangan keluarga dokter di Yogyakarta, dr Probosuseno SpPDK-Ger dan drg Hj Siti Rohmi juga memberikan ASI kepada keenam anaknya. Bahkan, tak seperti lima anak lainnya yang diberi ASI dua tahun, anak nomor lima, Rizka (11), diberi ASI sampai empat tahun. ”Rizka yang paling cerdas, paling kuat, paling lincah, dan multi-talenta. Dia bisa menyanyi, melukis, menceritakan, dan menghafal dengan cepat. Setiap mengikuti lomba selalu juara. Padahal anaknya mungil,” katanya. Republika.co.id



Read This Content ( 235 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

30 Siswa Indonesia Ikuti Ajang Olimpiade Sains Internasional

30 Siswa Indonesia Ikuti Ajang Olimpiade Sains Internasional – Sebanyak tiga puluh siswa Sekolah Menegah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Indonesia akan berlaga di ajang International Science Project Olympiad (ISPrO) 19-24 Mei 2013 mendatang.

Dirjen Dikmen Kemdikbud Hamid Muhammad mengatakan ketigapuluh siswa tersebut akan memamerkan hasil karya penelitian mereka bersama peserta dari 24 negara lainnya.

“Ini ISPrO pertama. Indonesia menargetkan juara umum untuk semua katagori,” kata Hamid pada konferensi pers The 1st International Science Project Olympiad (ISPrO) Kamis (16/5) di kantor Kemidkbud Jakarta.

Dua puluh empat negara tersebut yaitu Afghanistan, Albania, Azerbaijan, Bangladesh, Belarus, Bosnia, Herzegovina, Cambodia, Germany, Kazakstan, Kyrgystan, Moldova, Myanmar, Pakistan, Filipina, Turki, Lithuania, Macedonia, Madagaskar, Malaysia, Nepal, Tajikistan, Turkmenistan, dan Thailand.

Siswa Indonesia akan bersaing dengan  270 peserta dari 24 negara peserta.

“Indonesia mengirim 30 siswa dari 12 sekolah di 8 provinsi dengan total 15 project,” katanya.

Para peserta, jelas Hamid, akan berkompetisi untuk katagori sains terapan lingkungan bidang Biologi, Kimia, dan Fisika. Peserta yang akan mewakili Indonesia pada ISPrO sudah melalui proses seleksi dari Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) dan Indonesian Science Project Olympiad (ISPO).

Sumer : republika.co.id

 

Read This Content ( 236 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

Annisa dan Topeng Kekerasan

Annisa dan Topeng Kekerasan – Annisa tak lagi tersenyum. Gadis kecil berkulit putih yang menjadi sumber kebahagiaan keluarga itu kini tampak murung. Bibir mungilnya kehilangan kata-kata. Annisa ‘mogok’ makan, dan sudah sepekan menolak masuk sekolah. Padahal, beberapa waktu lalu dia begitu antusias memasuki hari-hari dengan seragam putih biru. Ada apa dengan Annisa? Berbagai cara ditempuh untuk membongkar kediamannya.

Saya memahami keresahan orang tua yang berangsur menjelma kepanikan. Sebab, Annisa kemudian meninggalkan rumah, memilih tinggal bersama neneknya, setelah permintaannya untuk operasi wajah tidak dikabulkan.

Permintaan aneh yang tak seharusnya lahir dari anak-anak itu, baru saya mengerti ketika kami berhadapan dan Annisa mulai bercerita. “Buku-buku Nisa dibuang ke tempat sampah, Bunda. Mereka melempar penghapus, juga pasir ke kepalaku. Di loker, mereka menulis nama Nisa dan menggandengkan dengan nama binatang.”

Annisa dan Topeng Kekerasan

Noktah di wajah Annisa menjadi sumber celaan dan tindakan bully yang dilakukan beberapa teman laki-laki dan perempuan di kelasnya. Julukan terkait tanda lahir di wajahnya terdengar puluhan kali, setiap hari. Membuat kuping dan wajah Annisa panas. Meski bahkan dengan tanda lahir pun sebenarnya kecantikan Annisa jauh di atas rata-rata, gadis itu tak lagi memercayai cermin. Annisa kehilangan kepercayaan diri.

Anak-anak kita, batin saya, sosok yang menjadi sumber keriangan orang tua, bagaimana mungkin memiliki topeng kekerasan sekaligus? Remaja yang seharusnya penuh empati kini mahir merendahkan. Kebahagiaan apa yang mereka peroleh dengan mengejek, serta melakukan kekerasan terhadap anak lain? Lalu bagaimana generasi masa depan bisa diharapkan?

Curhat kali ini mengentak batin lebih dari biasanya. Sebab ,tidak lahir dari para ibu rumah tangga yang berbagi kisah dan permasalahan keluarga, melainkan berasal dari ananda yang masih belasan tahun. “Apakah Nisa pernah melaporkan ke guru?”

Pelan-pelan Nisa mengangguk. Kedua orang tua gadis cilik itu membenarkan. Mereka sempat meminta Annisa pindah kelas. Tetapi wali kelas menolak dengan alasan hal itu akan membuat namanya tercoreng di depan kepala sekolah.

Ini baru cerita sepihak. Tetapi jika benar, sungguh menyedihkan. Bagaimana bisa seorang pendidik—ketika muridnya tersiksa dan kehilangan keinginan belajar—malah memikirkan karier ketimbang merasa bertanggung jawab terhadap kegagalan meniadakan kekerasan di kelasnya. Anak-anak yang berangsur kehilangan nurani. Tak mampu lagi berempati. Lalu wali kelas yang tak melindungi kecuali dirinya sendiri.
Saya mungkin masih bisa sedikit memahami jika kasus ini terjadi di sekolah yang minim fasilitas, di mana guru-guru dibayar tidak manusiawi, sehingga kurang motivasi untuk memerhatikan anak-anak, lalu murid-murid yang tertinggal. Tetapi apa yang dialami Annisa terjadi di sekolah percontohan di bilangan Cibubur, yang masuk kategori sangat mahal.

Annisa dan Topeng Kekerasan

“Jadi, Nisa harus bagaimana, Bunda?” Saya menarik napas, mengelus kepala gadis cilik itu.
Operasi, bukan jalan keluar setidaknya untuk saat ini. Sebab dengan semangat mengerjai seseorang, bahkan jika noktah itu hilang, anak-anak tetap bisa menemukan celah lain untuk “memamerkan” kekerasan.

Sedikitnya, ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama berharap siswa siswi yang suka mengolok-olok itu sadar dan berubah. Seharusnya pihak sekolah peka dan bersikap tegas terhadap kekerasan di lingkungan sekolah. Sebab, membiarkan berarti melegitimasi kekerasan, yang secara fisik atau psikis, atas nama apa pun dan di dunia manapun kita berada, tidak bisa dibenarkan.

Kedua, meningkatkan daya tahan pribadi, dalam hal ini Annisa. Menerima diri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Menebalkan telinga dan hati agar tidak terpancing atau merasa kesal terhadap ulah orang lain. “Kebahagiaan kita, kita sendiri yang menentukan, Annisa. Mereka yang tidak penting tidak boleh merusak kebahagiaan dan mimpi-mimpi kita.”

Saya mengajak Annisa fokus pada kelebihan dan hal-hal yang membuatnya tersenyum. Bukan kepada kekurangan dan berbagai persoalan yang hanya menimbulkan perasaan sedih berkepanjangan. Sepasang mata bening Annisa yang sempat redup, mulai bercahaya ketika saya bercerita tentang tokoh dan selebriti dunia yang mengalami kekerasan semasa sekolah. Pada akhirnya, justru mereka yang mencetak sejarah, bukan pihak yang melakukan bully.

Saya berharap Annisa dan anak-anak lain yang mengalami hal serupa berani menegakkan wajah menatap dunia. Perkataan dan perlakuan orang lain yang tidak mengenakkan, tidak boleh mengurangi semangat siapa pun menjalani kehidupan.

Di pihak lain, ingin sekali saya mengajak para pendidik, dan orang tua untuk sama-sama menelisik lebih dalam ke dalam relung hati anak-anak kita. Memastikan bahwa di balik celoteh, segudang prestasi dan kepolosan yang mereka tampakkan, tak ada topeng kekerasan, yang tersenyum bahagia saat menyengsarakan orang lain.

Oleh Asma Nadia

 

 

Read This Content ( 200 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

Bergembira Bersama Anak

Bergembira Bersama Anak – Ada kata-kata yang sering terungkap dari lisan buah hatiku yang berumur menjelang lima tahun, dan saya pun sangat senang mendengarya. “Kayyis sayang dan suka sama ummi, karena ummi lucu”. Biasanya spontanitas saya akan menjawab, “Kalau begitu ummi akan sering me “lucu” ah… biar kayyis selalu gembira. Ungkapan ini biasanya akan diucapkannya ketika sedang bersama bercanda, bermain dan berakrab ria dengan anak-anak, di sela-sela waktu ketika sedang di rumah bersama anak-anak. Menciumi pipi anak-anak kita, mengajaknya bercanda, menggodanya dengan menggelitiki di perut atau ujung kakinya, menaikan mereka di punggung sambil main kuda-kuda-an, atau pura-pura mengalah dalam berbagai “lomba” yang sengaja kita ciptakan, misalnya lomba mengancing /memakai baju, lomba mengambil handuk saat akan mandi, lomba menghabiskan makan sayur, lomba menggosok gigi, lomba merapikan mainan, dan segudang aktifitas lain yang akan menciptakan keakraban dan suasana ceria bersama anak-anak.

Aktifitas semacam ini sungguh menyenangkan untuk anak-anak kita, dan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan psykologis dan kestabilan emosi anak. Suasana bahagia dan ceria, akan membuat anak-anak bersikap optimis, penuh gairah dan harapan, serta menjadi pemberani. Buat kita, selaku orang tua, aktifitas semacam ini pun memberikan banyak sekali dampak posistif, yang terutama sekali adalah secara psykologis, merasakan kedekatan yang baik dengan anak. Selain itu perasaan rileks, mampu mengusir ketegangan dan capai fisik yang sebelumnya mendera. Rasanya semua capai yang dibawa saat beraktifitas di luar rumah, spontanitas menjadi hilang, berganti dengan kesegaran, ketika sampai di rumah bisa bergembira dan bercanda dengan anak-anak.

Islam memang manganjurkan, agar orang tua bisamenggembirakan dan menghibur anak dengan sesuatu yang menyenangkan, dengan humor, canda dan permainan yang terarah. Rasa jenuh, sedih, duka dan cemberut yang dialami anak, akan terusir. Rasul saw yang mulia, mengajarkan kita membaca doa “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari rasa sedih dan duka, dan dari sifat pemalas”

Para Shahabat juga menggambarkan sifat Rasul saw dengan ucapan : “Rasulullah saw adalah orang yang paling humoris, ketika berada di tengah anak-anak” ( ditakhrij oleh Ibnu suni dalam amal al yaum wa al-lailah hal 199.hadis no 319)

Diantara hal lain yang akan membuat anak bergembira, adalah dengan memberinya mainan. Mainan anak-anak, dengan berbagai modelnya, harus disesuaikan dengan jenis kelamin, anak, agar anak-anak tetap terjaga sesuai fitrahnya. Dia mengenal siapa dirinya, bahwa Allah menciptakan ada anak alaki-laki, ada anak perempuan. Anak perempuan jangan sampai menyerupai anak laki-laki, dan anak laki-laki jangan sampai menyerupai anak perempuan. Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan sebaliknya. Diriwayatkan bahwa Aisyah ra, sewaktu kecilnya, bermain-main menggunakan boneka.

Demikianlah, agama Islam yang sempurna telah meletakkan berbagai sendi kehidupan sesuai porsinya, semuanya dalam bingkai keseimbangan, tidak berlebihan, masingmasing mendapatkan haknya. Salah satu hak jiwa adalah mendapatkan kebahagiaan dengan hiburan sewajarnya. Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami pasangan dan anak keturunan yang menjadi penyejuk mata bagi kami, dan jadikanlah kami, pemimpin orang-orang yang bertaqwa” wallahu a’lam bishawab.

Artikel Lainnya :



Read This Content ( 215 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

Jalan Berbatu Perempuan Pejuang

Jalan Berbatu Perempuan Pejuang – Jalan Berbatu Perempuan Pejuang – Seorang ibu muda di sebuah seminar terisak saat menceritakan anak laki-lakinya (6 tahun) yang mudah marah, suka berbohong, bahkan pernah mengambil uang temannya di sekolah. Tingkah laku yang membuatnya sering menangis diam-diam. Sedih sekaligus dihujani perasaan bersalah karena telah menjadi bunda bekerja.

Perempuan muda lain, dengan menahan perasaan, bertutur tentang kedua putra yang selalu menangis keras saat melepasnya bekerja. Kepada dua putranya yang masih kecil, berkali-kali dijelaskan, pekerjaan ini mereka perlukan untuk membantu membeli susu, yang penting bagi pertumbuhan anak-anak. Kalimat yang dijawab oleh si sulung, “Aku nggak minum susu nggak apa, asal bunda berhenti bekerja.”

Sementara, seorang ibu berkerudung mengeluhkan kesabarannya yang terasa menipis setiap menghadapi anak-anak setelah bekerja seharian. “Saya jadi mudah memarahi dan menyebut mereka nakal, padahal terkadang kemarahan muncul karena masih terbawa capek.”

Perempuan bekerja rasanya sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Sebagian orang menganggap inilah bentuk dari terwujudnya cita-cita para pejuang hak-hak kaum perempuan: emansipasi wanita. Perempuan tidak lagi di belakang layar, melainkan seperti laki-laki, bisa turut berperan termasuk ikut menanggung beban finansial keluarga.

Lalu, apakah wanita yang mandiri dan berpenghasilan lebih hebat dari wanita yang ‘hanya’ menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga? Atau sebaliknya, wanita yang di rumah lebih mulia dari yang bekerja? Bagi saya, keduanya sama-sama pejuang. Terutama, ketika semua keputusan, entah berkarier atau berada di rumah, dibuat atas dasar kepentingan keluarga atau kepentingan yang lebih besar, bukan karena ego semata.

Bagi mereka yang memilih bekerja di luar rumah, silakan. Namun, beberapa catatan berikut barangkali bisa dipertimbangkan. Pertama, jangan pernah membawa permasalahan di kantor menjelma amarah di rumah. Kedua, tetap beri prioritas untuk momen khusus anak-anak, seperti pentas di sekolah, hari pertama sekolah, atau keadaan darurat lain.

Ketiga, siap bekerja lebih keras. Menjadi bunda bekerja berarti bangun lebih pagi buat anak-anak dan tidur lebih malam, karena ketika pulang masih harus menyediakan waktu dulu untuk bermain dengan anak, bertanya pelajaran, dan sebagainya. Keempat, selalu menyiapkan waktu berkualitas bersama anak-anak di hari libur. Hal lain, orang tua yang keduanya bekerja harus mampu mendelegasikan standar pendidikan yang baik kepada siapa pun yang mewakili mereka menjaga anak, asisten rumah tangga, pengasuh, atau kakek-nenek anak-anak.

Bagaimana dengan mereka yang ingin fokus sebagai ibu rumah tangga? Menjadi ibu rumah tangga adalah peran mulia. Jika itu yang menjadi pilihan, maka sudah seharusnya para bunda bangga akan pilihan tersebut. Perasaan minder dan merasa lebih rendah dari bunda bekerja, yang kadang menyelinap, harus ditiadakan.

Penting bagi para bunda untuk menemukan cara menikmati keseharian di rumah yang kadang mungkin terkesan monoton. Buktikan bahwa keberadaan sosok ibu setiap waktu di rumah memberi manfaat lebih dibandingkan jika rumah ditangani orang lain.

Satu hal, setiap istri sebaiknya tidak mengandalkan pemasukan keluarga hanya kepada suami. Saya pernah bertemu seorang wanita dengan karier cemerlang, namun memutuskan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Beberapa tahun kemudian, ketika suaminya meninggal, baru disadarinya betapa penting seorang ibu tetap berpenghasilan. Dan, akan sulit jika harus memulai lagi dari nol setelah suami tidak ada.
Dengan perkembangan ide dan teknologi, sebenarnya terbuka ruang bagi perempuan untuk membangun eksistensi dan mencari penghasilan tanpa harus rutin meninggalkan rumah. Ini bisa menjadi jawaban bagi ibu rumah tangga penuh, maupun yang bekerja, untuk membangun sumber penghasilan cadangan.

Aneka bisnis online, misalnya, saat ini berkembang luar biasa. Membuka atau membeli franchise bisa menjadi alternatif yang mudah didelegasikan ke orang lain. Pun multilevel marketing (MLM) mempunyai karakter khas yang memungkinkan fleksibilitas waktu. Tentu perlu pertimbangan jeli sebelum menentukan mana yang terbaik.

Selain bisnis online, ada pekerjaan-pekerjaan paruh waktu yang bisa dilakukan di rumah dan berpotensi, seperti menjadi konsultan lepas, penulis, guru privat, ilustrator, mengelola usaha katering, penerjemah, layouter, editor, desain grafis, dan banyak lagi.

Bagi bunda bekerja—jika ingin—secara bertahap bisa mulai merintis usaha alternatif dengan rumah sebagai basis tanpa menunggu berhenti dari pekerjaan saat ini. Libatkan anak dalam cita-cita dan rencana tersebut. Hingga, alih-alih menangis setiap melepas bekerja, semoga anak-anak bisa mengaminkan doa: suatu saat bunda akan lebih sering bersama.

Oleh Asma Nadia

Artikel sebelumnya :

 



Read This Content ( 270 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

Asma Nadia: Tulislah Hal yang Buat Kita Bahagia

Asma Nadia: Tulislah Hal yang Buat Kita Bahagia – Semoga tulisan ini bisa menginspirasi untuk anak anak yatim di asrama Griya Yatim dan Dhuafa untuk mulai “belajar menulis”. Berbagi  kiat menulis novel bagi para penulis pemula, novelis muda Indonesia, Asma Nadia mengajak seluruh remaja Indonesia untuk percaya diri dalam menulis. Novelis yang telah melahirkan 47 novel dalam kategori best seller tersebut, antusias berbagi pengalaman dengan pengunjung Republika Ramadhan Fair (RRF) 2012 untuk membahas berbagai persoalan yang menghambat menulis novel.

“Musuh terbesar yang menghambat kita menulis adalah motivasi diri yang kurang,” ujar Asma Nadia di sesi diskusi dan bedah novel ‘Cinta di Ujung Sajadah’, dalam acara RRF 2012, Komplek Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran, Rabu (25/7).

Menurut salah satu pendiri Forum Lingkar Pena tersebut, ada fenomena unik yang kini tidak disadari oleh kalangan remaja yang ingin mulai aktif menulis. Menurut Asma, dalam belajar menulis, harus diawali dengan motivasi yang kuat. Menurutnya, tidak ada rasa malas dalam diri seseorang, hanya saja motivasi yang kurang membuat semangat dalam menulis pun berkurang.

“Kuncinya, buatlah tulisan yang membuat kita bahagia,” ujar penulis yang terkenal dengan karya-karya novel Islaminya tersebut. Persoalan lainnya, ungkap Asma, kadang kita harus melepaskan kebiasaan bahwa baru bisa menulis ketika mood dan inspirasi yang datang. Menurut Asma, hal tersebut terjadi karena kita tidak memiliki alas an yang kuat mengapa harus menulis.

“Menulis membuat kita seakan abadi, tulislah hal sederhana yang mampu membangkitkan semangat,” ujarnya.

Novelis yang terkenal dengan novel ‘Emak ingin Naik Haji’ itu pun nampak tegas menjawab sejumlah pertanyaan yang ditujukan padanya. Konsistensi serta semangat dalam menulis novel pun, ungkap Asma Nadia, harus berawal dari keputusan yang kuat sebelum mulai menulis. “Jangan pernah buat novel atau tulisan yang membuat kita menyesal,” ujar Asma. Sumber : Republika

Artikel Berkaitan :

 

Read This Content ( 502 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →

Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak

Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak – Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari bahwa anak dan remaja lebih dikendalikan oleh emosi-emosi mereka daripada pemikiran rasional dan logis. Emosi ini menjelaskan mengapa anak dan remaja berperilaku demikian, termasuk pada perilaku yang merusak diri sendiri. Jadi jika kita ingin memotivasi mereka, sebaiknya kita pahami lebih dulu emosi yang mengendalikan mereka dan memanfaatkannya untuk mengarahkan perilaku dan pemikiran yang lebih memperdayakan.

 

Berikut adalah ketiga kebutuhan emosional anak:

1. Kebutuhan untuk merasa AMAN
Salah satu kebutuhan terkuat yang dibutuhkan soerang anak adalah perasaan aman. Aman didalam diri dan lingkungannya. Remaja mencari rasa aman dengan bergabung dengan sekelompok “geng” atau sekumpulan teman sebaya mereka, terlibat aturan sosial diantara mereka, serta meniru perilaku temannya.

Seorang psikolog Dr. Gary Chapman, dalam bukunya “lima bahasa cinta” mengatakan kita semua memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi, lebih tepatnya jika anak maka orangtuanya yang sebaiknya mengisi. Anak yang tangki cintanya penuh maka dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat diartikan sebagai anak yang berbahagia dan memiliki “inner” motivasi.

Perlukah kita mempelajari dan mengetahui tangki cinta? Sangat perlu, saya seringkali merekomendasi para guru dan orangtua untuk mempelajari dan menemukan bahasa cinta anak mereka, dirinya dan pasangannya. Hal ini akan saya bahas pada artikel berikutnya).

Contoh, terdorong oleh rasa cinta kepada anaknya seorang ibu memarahi anaknya yang sedang bermain computer. “berhenti maen computer dan belajar sekarang” lalu apa yang ada dibenak anak? Mungkin “Hmpf… Ibu tidak sayang padaku, dan ingin mengendalikan aku serta keasyikanku” Nah, anak menerimanya sebagai hal yang negatif, komunikasi yang menghancurkan rasa cinta ini biasanya yang menjadi akar permasalahan orangtua dan anak, serta guru.

 

“Mencintai anak tidak sama dengan anak merasa dicintai”

 

Apa yang menyebabkan kebutuhan akan rasa aman tidak terpenuhi?
• Membandingkan anak dengan saudara atau orang lain
Ketika kita mengatakan “mengapa kamu tidak bisa menjaga kebersihan kamar seperti kakakmu”, “kenapa kamu tidak bisa menulis serapi Rudi”. Akan tumbuh perasaan ditolak, tidak diterima, mereka akan berpikir “papa/mama lebih suka dengan…” hal ini menumbuhkan sikap tidak suka dengan dirinya sendiri dan ingin menjadi orang lain. Mereka merasa aman dengan menjadi orang lain, bukan merasa aman dan nyaman menjadi dirinya sendiri.

• Mengkritik dan mencari kesalahan
Ketika kita mengatakan: “dasar anak bodoh, apa yang salah denganmu? Kenapa kamu tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar?”
Dapat dipastikan, akan menimbulkan perasaan dendam, tidak ada rasa aman dilingkungan rumah (jika hal ini sering terjadi dirumah).

• Kekerasan fisik dan verbal
Saya rasa tidak perlu dijelaskan lagi, hal ini sudah banyak kita temui di surat kabar dan berita ditelevisi, dan bahayanya atau akibatnya juga sering kita temui di media tersebut. Jika tidak ada rasa aman dalam rumah, maka seorang anak akan mencari perlindungan untuk memenuhi rasa aman mereka disemua tempat yang salah. Dan anak akan melakukan apa saja untuk mendapatkan rasa aman ini, mencari perhatian dengan cara yang salah.

 

2. Kebutuhan akan pengakuan (merasa penting) dan diterima atau dicintai

Jarang sekali orangtua membuat anak-anak mereka merasa penting dan diakui dirumah. Sebaliknya banyak orangtua yang membuat anak mereka merasa kecil dan tidak berarti dengan ancaman: “lebih baik kerjakan PR-mu sekarang, atau…”

Apa yang ada dalam pikiran anak jika diperlakukan seperti itu? Kita orangtua justru senang jika anak melakukan hal yang kita perintah, tapi yang ada dipikiran anak adalah mereka merasa kalah dengan melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan cara seperti itu. Sehingga banyak anak yang menunda atau tidak mengerjakan apa yang ditugaskan orangtua (bahkan dengan ancaman sekalipun) untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya akan pengakuan.

Peringatan keras bagi orangtua: Jika anak-anak tidak merasa dicintai dan diterima oleh orangtua, mereka akan terdorong untuk mencarinya disemua tempat yang salah.

Keinginan seorang anak untuk diakui dan ingin dicintai begitu kuat, sehingga mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Jika mereka tidak mendapat pengakuan dengan cara yang benar maka akan menemukan dengan cara yang salah dan ditempat yang salah. Kebutuhan ini mendorong beberapa anak dan remaja untuk menggunakan tato, mengganggu anak lain, bergabung dengan geng pengganggu, mengecat rambut dengan warna menyolok, bertingkah laku seperti badut dan pelawak. Hal ini umumnya menyusahkan mereka sendiri, tetapi demi mendapatkan pengakuan dan diterima (mendapatkan perhatian).

Ada kasus ekstrim pada 16 april 2007, seorang siswa US Virginia Tech, Cho Seng-hui. Menembak dan menewaskan 32 siswa. Apa yang mendorong perilaku tersebut, sehingga dia melakukan hal yang begitu luar biasa gila? Dia melakukan hanya karena kebutuhan pengakuan dan rasa pentingnya begitu besar, tetapi tidak terpenuhi oleh orang-orang yang mengabaikannya dan menghinanya. Hal itu memaksanya keluar dari dunia logika dan merenggut nyawa orang lain serta dirinya sendiri, dalam pikirannya dia berpikir lebih baik mati bersama nama buruk dari pada hidup bukan sebagai siapa-siapa.

 

3. Kebutuhan untuk mengontrol (merasa mandiri atau keinginan untuk mengontrol)

Seiring pertumbuhan anak, sembari mencari identitas diri dan sambil belajar membangun kemandirian dari orangtua. Proses ini menciptakan kebutuhan emosional untuk bebas dan mandiri.

Jadi itu sebabnya anak tidak mau didikte untuk apa yang harus dilakukan. Mereka merasa tidak “gaul” mendengarkan orangtua. Dengan mendengarkan nasihat orangtua mereka seakan diperlakukan seperti anak kecil. Ini menjelaskan mengapa anak lebih mendengarkan teman mereka dan om atau tante (paman atau bibi) yang masih muda dari pada orangtuanya sendiri.

Orangtua yang cerdas, tidak akan menyerah menghadapi hal ini. Bagaimana caranya memberikan arahan dan agar anak mau mendengar orangtua? Gunakan komunikasi yang tidak bermaksud memaksa anak dengan nasihat kita. Buatlah seakan-akan mereka belajar dan bekerja keras untuk diri mereka sendiri bukan untuk kita. mereka akan lebih bersemangat dan termotivasi dengan cara seperti itu. Dan yang terpenting adalah memenuhi tangki cinta anak kita setiap hari dan memastikan selalu penuh saat bangun anak bangun tidur dan menjelang tidur. Dengan begitu anak tahu siapa yang paling mengerti dan sayang, serta kepada siapa dia akan datang pada saat membutuhkan seseorang untuk mendengar, yaitu kita orangtuanya.

 

Ambilah manfaat dari informasi ini, kenali kebutuhan emosi anak kita. Pekalah dimana saat anak membutuhkan penerimaan, kebutuhan untuk mengontrol sesuatu, serta butuh untuk aman. Gunakan kata-kata yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, berikut tips dan cara memenuhi kebutuhan emosi dasar seorang anak:

1. Rasa aman:
• Tenang sayang kamu aman bersama papa, mama akan temani kamu, hey… papa disini bakal jaga kamu sayang

2. Rasa penerimaan atau dicintai:
• Biasakan menatap mata saat berbicara pada anak, usahakan tatapan mata adalah datar atau “mata sayang”
• Sentuh bagian bahu saat berbicara atau bagian manapun asal sopan, untuk menunjukan bahwa kita ada bersama dan dekat dengan anak
• Usahakan sejajar (berdiri sejajar dengan anak atau berlutut)
• Katakan: apapun yang terjadi papa/mama tetap sayang sama kamu, kamu tetap jagoan papa/mama, dimata papa/mama kamulah yang paling cantik

3. Kebutuhan untuk mengontrol:
• Jika memungkinkan, jika anda melihat anak anda perlu untuk melakukan sesuatu sendiri maka ijinkanlah
• Sebenarnya itu adalah proses belajar untuk dirinya sendiri dan akan sangat bermanfaat dimasa dewasa
• Harga diri anak akan semakin tinggi, jika kita rajin memberikan kontrol kepada anak, karena anak merasa mampu melakukan kegiatan tanpa bantuan (tentunya kegiatan yang aman sesuai dengan kebijaksanaan orangtua)
• Luangkan waktu khusus untuk beraktivitas dan memberikan kontrol dan mengawasinya dengan kasih sayang, misal: anak umur 2-3 tahun minta makan sendiri, pergi ke sekolah sendiri, dan lain-lain

Sumber : pendidikankarakter.com

 

Read This Content ( 183 X )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا » وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. HR al-Bukhari (no. 4998 dan 5659).

Read More →